Didasari oleh rasa tanggung jawab terhadap agama, masyarakat dan bangsa, dipandang perlu adanya Sekolah/Madrasah yang membidangi ajaran agama (Islam), maka atas kesepakatan pemuka-pemuka agama dan pemuka-pemuka masyarakat kota Rengat pada tanggal 22 Maret 1942 M bersamaan dengan 4 Rabiul Awal 1361 H, didirikanlah sebuah sekolah agama Islam tingkat Ibtidaiyah dengan menggunakan rumah kediaman pendirinya yaitu H.Mohd.Marzuki dan langsung dipimpin oleh Ustadz H.Moh.Marzuki dan dibantu oleh Ustadz Ahmad Shonhaji Muhammad dengan jumlah murid ketika itu sebanyak 60 orang.

Setelah 6 bulan belajar dirumah kediaman ustadz H.Mohd.Marzuki dan muridnya semakin bertambah juga sehingga ruangan belajar dirumah tersebut tidak memungkinkan lagi, maka atas permufakatan dengan pihak-pihak yang bersangkutan pada waktu itu sekolah ini berpindah tempat belajar menumpang pada sekolah rakyat/sekolah dasar nomor 3 yang terletak disebelah barat toko-toko kota Rengat dipinggir sungai Indragiri pada tahun ajaran 1942/1943.

Selama 1 tahun belajar menumpang disekolah ini maka pada tahun ajaran 1943/1944 tempat belajar sekolah ini dipindahkan kepinggir Masjid Raya Kota Rengat.

Mengingat murid-murid sekolah ini semakin bertambah juga dengan jumlah murid mencapai 200 orang maka pada tahun 1943/1944 ini juga ditimbulkan niat dan hasrat masyarakat untuk mendirikan sebuah gedung yang dilaksanakan oleh para pembangunnya bekerja sama dengan masyarakat, maka berdirilah sebuah bangunan gedung yang terdiri dari 4 ruangan belajar dengan ukuran 6×6 M perlokal, dan 1 lokal kantor/ruangan guru-guru dengan    ukuran 3×6 M.

Pada bulan April 1945 M, bersamaan dengan 1364 H gedung sekolah ini diresmikan oleh pemerintah Jepang dan diberi nama perguruan agama Islam Rengat yang disingkat dengan PAIR. Gedung tersebut pada tahun 1985 telah dibongkar karena bangunan tersebut sudah lapuk dan tidak layak pakai lagi, maklum perkayuan sebagai bahan banguna dizaman Jepang yang hanya dapat bertahan sekitar 40 tahun.

Pada tahun 1947 Perguruan Agama Islam ini semakin berkembang dan mencapai jumlah murid sebanyak 300 orang dengan demikian tingkat pendidikannya ditingkatkan dari madrasah Ibtidaiyah ketingkat madrasah Tsanawiyah dan belajar pada waktu pagi dan sore hari.

Setelah berkembang pada tingkatan tersebut, dalam mana terjadi keadaan yang cukup sulit akibat perjuangan fisik melawan penjajahan Belanda 1947 maka PAIR merupakan tempat berlatih Tentara Sabilillah yang dilatih oleh Tentara Republik Indonesia dan H.Mohd.Marzuki pendiri sekolah ini diangkat menjadi mayor Fisabilillah, dan dengan keadaan itu pula murid-murid PAIR pada waktu itu agak berkurang, namun sekolah ini tidak sampai ditutup.

Dengan pasang surutnya keadaan tersebut barulah pada Tahun Ajaran 1951/1952 murid-murid tingkatan Tsanawiyah PAIR dapat menamatkan pelajarannya dan sebahagian melanjutkan pelajarannya kejawa dan sumatra Barat (tingkat Tsanawiyah 1947 s/d 1954).

Kemudian pada tahun 1955 sejalan dengan perkembangan pendidikan dan pengajaran pada waktu itu tingkatan Tsanawiyah dikembangkan lagi menjadi Pendidikan Guru Agama (PGA-PAIR) 4 tahun yang menjurus kepada sekolah keguruan dibidang agama Islam.

Semenjak didirikan PGA-PAIR 4 tahun pada sekolah ini ternyata anak-anak didik semakin bertambah pula maka PGA yang tadinya berpendidikan 4 tahun tingkatkan lagi menjadi (PGA-PAIR) 6 tahun pada Tahun Ajaran 1959 / 1960. Tetapi tidak berlanjut, yang berlanjut PGA 4 tahun.

Dengan adanya kemajuan-kemajuan yang tercapai dan dengan bertambahnya siswa/siswi sekolah ini maka sangat terasa pulalah akan kekurangan ruangan tempat belajar, sehingga pada awal tahun ajaran terjadi penolakan penerimaan murid-murid.  Untuk mengatasi hal tersebut maka dari pihak Yayasan PAIR berusaha sedaya upaya dan alhamdulillah segala sesuatu yang menjadi hambatan dapat diatasi dengan membangun gedung sekolah yang terdiri dari 1 ruangan kepala sekolah, 1 ruangan majelis guru dan 4 ruangan belajar, dalam hal ini terdapat bantuan Presiden Republik Indonesia.

Kemudian daripada itu dengan melihat kepada kenyataan selanjutnya dan sejalan dengan perkembangan pendidikan dalam hal ini terutama ditujukan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, berdasarkan UUD 1945 serta insan-insan yang relegius, bertanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat dan bangsa serta lebih dari itu bertanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan untuk meningkatkan mutu pendidikan, maka atas kesepakatan bersama antara pengurus PAIR dan guru-guru PGA-PAIR tanggal 18 Juli 1972 an keputusan Bupati Inragiri Hulu tanggal 18 September 1972 no : 42/1974, Selanjutnya pendidikan guru agama PAIR dilebur menjadi pesantren Madinatun Najah PAIR terhitung mulai tanggal 25 Januari 1975 dan sekaligus murid-murid Ibtidaiyah PAIR, PGA 4 tahun PAIR dan PGA 6 Tahun PAIR menjadi Murid-murid Pesantren Madinatun Najah PAIR Rengat yang terdiri dari :

  1. Sekolah Ibtidaiyah PAIR, Menjadi Madrasah Diniyah ( MDA ) Madinatun Najah PAIR.
  2. Sekolah PGA-4 Tahun PAIR Menjadi Madrasah Tsanawiyah ( MTs ) Madinatun Najah PAIR.
  3. Sekolah PGA-6 Tahun PAIR Menjadi Madrasah Aliyah ( MA ) Madinatun Najah PAIR.

Untuk dimaklumi bahwa sekolah PGA 4 Tahun dan Sekolah PGA 6 Tahun Pesantren Madinatun Najah PAIR. Berakhir pada tahun 1980/1981 dan menjadi awal tahun keberadaan Madrasah Tsanawiyah Madinatun Najah dan Madrasah Aliyah Madinatun Najah yang ada sekarang sesuai dengan ketentuan Departemen  Agama. Jadi berdirinya Madrasah Tsanawiyah Madinatun Najah PAIR ada kaitannya dengan sekolah PGA-4 Tahun PAIR , dan Madrasah Aliyah Madinatun Najah PAIR ada Kaitannya dengan sekolah PGA-6 Tahun PAIR, adapun jumlah murid MDA Madinatun Najah ketika itu 90 orang terdiri dari 4 lokal, kelas I, kelas II, kelas III, dan kelas IV.

Murid MTs. Madinatun Najah 120 Orang Terdiri dari 3 lokal, kelas I, kelas II dan Kelas III. Murid MA. Madinatun Najah 115 Orang terdiri dari 3 lokal, kelas I, kelas II dan kelas III dan pada saat itu sekolah tersebut berstatus terdaftar sedangkan kepala sekolah adalah Ramli Husin.

Untuk dimaklumi bahwa sekolah ini berada dibawah naungan Yayasan Pendidikan Agama Islam  Rengat ( YPAIR ) yang didirikan pada tanggal 9 Oktober 1972 yang diketuai oleh Drs. Bakir Ali sekaligus sebagai ketua Yayasan.

Setelah beberapa tahun sekolah ini berjalan maka terhitung mulai tanggal 28 September 1995 Madrasah Tsanawiyah Madinatun Najah PAIR Rengat berstatus diakui dan Madrasah Aliyah Madinatun Najah PAIR Rengat berstatus diakui terhitung mulai tanggal 4 Januari 1996 oleh Departemen Agama. Dalam pada itu melihat perkembangan jumlah siswa-siswi yang cukup meningkat setiap Tahun Ajaran dan dengan banyaknya siswa-siswi yang menamatkan pelajaran pada tingkat Madrasah Tsanawiyah maupun tingkat madrasah Aliyah. Maka timbullah suatu hasrat dari pihak Yayasan PAIR berserta pengurus sekolah untuk lebih meingkatkan tingkatan sekolah ini dari tingkat Aliyah ke tingkat sekolah yang lebih tinggi. Maka atas kesepakatan bersama didirikanlah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dan dengan mengucapkan syukur kehadirat Allah maka pada tanggal 16 Mei 2000 diresmikanlah berdirinya Sekolah Tinggi Agama Islam oleh Koopertais Wilayah XII Riau yang diberi nama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Madinatun Najah Rengat yang berada dibawah naungan Yayasan PAIR Rengat. Sebagai pendiri sekaligus sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam ini adalah M.Sahan, S.Ag. Jumlah mahasiswa tahun akademik 2000/2001 adalah :

  1. Mahasiswa D.II berjumlah 52 orang
  2. Mahasiswa S.1 berjumlah 20 orang
  3. Jumlah mahasiswa tahun akademik 2001/2002 adalah :
  4. Mahasiswa D.II berjumlah 121 orang
  5. Mahasiswa S.1 berjumlah 66 orang

Mengenai tenaga pengajar terdiri dari Dosen-dosen lokal dan juga yang didatangkan dari IAIN Susqa Pekanbaru.

Masa-masa Suram dan Cara Mengatasinya

               Segala sesuatu kerja dalam upaya mencapai suatu tujuan yang baik tidak selamanya berjalan mulus tanpa hal-hal yang kurang menguntungkan atau yang pernah disebut masa pasang naik dan pasang surut. Sebagaimana yang dipaparkan semula bahwa sekolah ini dengan segala kegiatannya telah sampai ketingkat Sekolah Tinggi yang didirikan pada tahun 2000 M / 1421 H, dan diberi nama Sekolah tinggi Agama Islam Madinatun Najah PAIR Rengat adalah merupakan suatu prestasi cemerlang dalam perjalanan sekolah ini atau disebut pasang naik, namin bagaimanapun juga bila kita menyebut pasang naik tentu tak luput pula kita berada dalam apa yang disebut pasang surut.

               Dalam hal ini dapat kita jajaki kembali hal-hal yang merupakan pasang surut yang pernah terjadi menurunnya kegiatan proses belajar dan mengajar pada masa revolusi melawan penjajahan Belanda pada tahun 1945-1949 sebagaimana telah disebutkan diatas, sehingga pelajar-pelajar ketika itu jauh berkurang, dan Alhamdulillah mulai tahun 1950 hal tersebut dapat dipulihkan kembali.

Dalam pada itu sekitar tahun 1963, 1964 dan 1965 terjadi hal yang menimpa negara dan bangsa dalam peristiwa Gayang Malaysia dan peristiwa Gestapu yang berakibat kepada memburuknya perekonomian bangsa. Akibat dari hal tersebut diatas maka murid semakin berkurang dan guru-guru banyak meninggalkan tugas sehingga proses belajar mengajar semakin menurun. Diperkirakan pada akhir tahun 1965, murid-murid ketika itu berjumlah 30 orang, untuk 3 kelas dengan tenaga guru 2 orang diantaranya Bapak Komari.

Pada awal tahun 1966 melihat situasi yang semakin kurang menguntungkan maka para alumni PAIR, Drs. Baharuddin Yusuf, Drs. Munashir Jofri dan Affan Basri, SH dengan persetujuan pimpinan sekolah H. Mohd. Marzuki ketika itu untuk memanggil Ramli Husin yang ketika itu bermukim di Airmolek supaya kembali ke Rengat, untuk dapat menyumbangkan pikiran dan aktif untuk bertugas guna menyempurnakan kembali kendala-kendala yang terjadi pada sekolah ini.

Oleh karena satu dan lain hal maka panggilan tugas tersebut baru dapat terlaksana pada pertengahan tahun 1966 dengan mengatur kembali kegiatan belajar dan mengajar serta penyempurnaan administrasi sekolah, dan dibantu oleh Bapak Komari, Bapak Sudirman, M.Kas dan Bapak Jauhari Sanib.

Alhamdulillah pada tahun ajaran 1966/1967, jumlah murid menjadi lebih 70 orang, tahun 1967/1968, lebih kurang 120 orang, tahun 1968/1969 jumlah murid mencapai lebih kurang 180 orang dan pada tahun 1969/1970 murid sudah melebihi 200 orang.

Melihat kenyataan pada waktu itu, pengurus sekolah mengadakan pertemuan dengan Bapak Drs. Bakir Ali untuk mencari jalan terbaik guna mengatasi gedung ruangan belajar yang sudah tidak memadai lagi sedang murid semakin bertambah juga.

Pada tahun 1972 jumlah murid mencapai lebih 300 orang dan dengan kesepakatan pengurus maka didirikanlah Yayasan PAIR yang diketuai oleh Drs. Bakir Ali dengan berusaha mendirikan gedung sekolah sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu.

  1.  TOKOH-TOKOH PENDIRI

Adapun ketua-ketua pengurus Yayasan PAIR adalah :

  1. Pada tahun 1972 oleh : Drs. Bakir Ali dan Saad Umar
  2. Pada tahun 1978 oleh : H. Mohd Marzuki dan A. Gafar Abidin
  3. Pada tahun 1989 oleh : Masri Aris, BA dan Mardi, HS
  4. Pada tahun 2000 oleh : H. Masri Aris, BA dan H. Mardi, HS

Hal-hal yang patut diingat bahwa berjalannya sekolah ini adalah atas bantuan swadaya masyarakat, selain itu juga mendapat bantuan dari Departemen Agama terutama tenaga pengajar semenjak tahun 1955 sampai sekarang, walaupun pada akhir-akhir ini bantuan guru-guru tersebut agak menurun. Dibahagian lain ada juga bantuan rehab bangunan dan buku-buku pelajaran.